Mau Website seperti ini? Cek dulu yukk...

Cek Nama Domain ?

image

ID Sitekno: ST293717

Chatingan yukkk.....
Tamu

Anda Teman yang ke...

 

count web hits
Dell

 

Yang OnLine

Kunjungan Teman dari :

Anak Super Cerdas Berawal dari Rumah

Mahasuci Allah, Zat yang telah mewajibkan manusia untuk merancang masa depan. Segala puji bagi-Nya yang telah menganugerahi manusia hasrat untuk meraih yang terbaik. Tiada Tuhan selain Dia yang menghargai hamba dari prestasi, jasa, karya dan amalnya. Dan Mahabesar Dia yang menghendaki manusia untuk hidup dengan kualitas terbaik.

 

Revolusi kecerdasan sudah lama dimulai, dan akan terus bergulir tak mengenal henti. Sebab itu, agar tak tertinggal apalagi terlindas, kita wajib terlibat sangat aktif dalam revolusi yang akan membentuk kehidupan masa depan ini. Kekeliruan, kelalaian, atau kesalahan yang pernah dilakukan oleh kita dan para pendahulu kita selama ini, sudah saatnya diperbaiki, bahkan dalam sejumlah kasus, justeru harus ditinggalkan. Kita tidak wajib mengikuti apalagi menaati sesuatu yang salah, meskipun bersumber dari para pendahulu yang sangat kita hormati. Kita hanya wajib mengikuti dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Sehingga pola pikir, kesimpulan dan tindakan apa pun harus kita acukan kepada keduanya saja, tidak kepada yang lainnya.

 

Kita diwajibkan menuntut ilmu atau belajar, sejak raga kita ditimang dalam buaian hingga saat-saat menuju kuburan. Sepanjang hidup, sepanjang masa yang masih kita singgahi. Dan, belajar bisa dilakukan di mana saja. Tidak harus di sekolah atau lembaga formal. Bahkan, saat institusi sekolah kini sedang banyak disorot karena berbagai “kesalahannya” (baca artikel lainnya dari penulis, yakni: “Mengantisipasi Gerakan Anti Sekolah”), maka kita harus mencari alternatif yang efektif.

 

Dan, alternatif pertama sekaligus utama itu adalah keluarga, rumah tangga. Sebab itu, rumah bukan saja menjadi tempat seseorang kembali dari aktivitas keseharian, bukan saja menjadi tempat seseorang berlindung dan mencari kenyamanan, bukan saja tempat seseorang beristirahat dan bercengkrama dengan anggota-anggota lain di dalamnya… tetapi lebih dari itu, rumah juga harus menjadi tempat belajar sekaligus. Sebuah rumah harus sekaligus menjadi Learning Home (Rumah Belajar).

 

Sungguh, untuk menjadi cerdas, berakhlak, siap hidup, mengerti teknologi, bahkan membangun kebangkitan dan kesejahteraan, kita tidak harus mendapatkannya di sekolah. Bahkan jika kita menggantungkan harapan kita pada sekolah, untuk tujuan-tujuan tersebut, kita akan terus menerus kecewa…. Karena banyak –atau kebanyakan—sekolah justru tidak menyediakan kita apa yang kita butuhkan itu. Karenanya, meraih keunggulan-keunggulan tersebut, kita tidak harus menggantungkan harapan pada sekolah. Kita hanya harus belajar dan berjuang keras mencapainya. Dan yang menakjubkan, proses-proses terpenting dari tujuan itu justru bisa dilakukan di rumah.

 

Hanya saja, agar kita (anak dan keluarga) bisa tumbuh cerdas sesuai fitrah, maka semua proses belajar harus dirancang by design dan by target. Harus ada desain dan target yang jelas, dan tervisikan. Di Iran, dalam usia 5 tahun, Husein Thabathaba`i sudah menjadi hafizh (penghafal) Al-Quran. Lebih dari itu, ia bukan saja telah hafal dan memahami arti dan makna Al-Quran, tetapi juga terbiasa berkomentar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan orang dengan ayat-ayat Al-Quran yang relevan. Yang tidak kalah menakjubkan, dalam usia 7 tahun ia telah menjadi seorang doktor cilik, yang mendapatkan gelar doktoralnya setelah diuji kemampuan hafal dan tafsir Al-Qurannya oleh sebuah tim, di sebuah college di Inggris.

 

Husein Thabathaba`i sangat menakjubkan, dan mengundang decak kagum siapa pun yang sempat melihat dan menyaksikannya. Sampai-sampai, saat bertemu anak ini, saking kagumnya pada bocah mungil dan lucu yang luar biasa dan fenomenal itu, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi mendoakannya semoga menjadi seorang mujaddid. Ali Akbar Hasyimi Rafsanjani (mantan Presiden Iran) pun memujinya dan menganjurkan orang-orang untuk meneliti metodologi yang dipakai dan menerapkannya untuk anak-anak lain. Termasuk seorang penafsir kontemporer Iran, Mohsen Qiraati, mengaku untuk tidak malu belajar dari anak kecil yang baru lahir kemarin sore itu.

 

Masih di Iran, seorang bocah berusia 6 tahun rutin membaca 10 judul buku setiap hari. Bahkan dalam usianya yang masih sangat hijau itu, ia sudah selesai membaca 4000 judul buku. Hebatnya, buku-buku yang ia baca bukan hanya buku cerita anak pada umumnya, tetapi juga buku-buku ilmiah dewasa.. Luar biasa…!!! Berarti, sejak usia di bawah 6 tahun ia bukan hanya sudah lancar membaca dengan baik, tetapi juga telah terbiasa membaca buku dengan baik pula.

 

Nah, pertanyaannya, apakah prestasi Husein Thabathaba`i  yang hafizh al-Quran pada usia 5 tahun dan bocah 6 tahun pembaca 4000 judul buku itu diupayakan dari sekolah formal…? Tentu saja, tidak..!!! Melainkan dari orang tua, rumah dan keluarganya. Husein Thabathaba`i sendiri, baik ayah maupun ibunya, sama-sama hafizh yang mengajarkan Al-Quran kepada orang-orang. Thabathaba`i selalu diajak ibunya saat mengajarkan Al-Quran pada murid-muridnya.

 

Jika kita memiliki niat, visi, target dan desain belajar yang hebat, maka sangat mungkin kita pun bisa mencapai lebih dari yang telah mereka capai, atau setidaknya lebih dari yang akan kita capai dengan cara dan pola tanpa visi, tanpa target dan tanpa desain. Maka… mulailah ambil bagian untuk mengkreasi rumah menjadi lingkungan belajar bagi para penghuni di dalamnya, menjadikan rumah sebagai Learning Home. Dan untuk mencapai hasil terbaik, tentukan pula target-target kecakapan yang hendak dicapai untuk anak-anak, sejak bayi. Target-target kecakapan itu, misalnya, meliputi baca-tulis-hafal Al-Quran, ibadah harian, baca-tulis Latin, bertutur, logika, matematika, serta tiga bahasa (bahasa asli, bahasa Arab dan bahasa  Inggris), dan lainnya. Dan semua target itu dicanangkan untuk dicapai selama 5 tahun pertama usia seorang anak, dan dilakukan secara bersamaan.

 

Dan… bermimpilah… Jika pada usia balita, misalnya seorang anak sudah menguasai ratusan kosakata Arab dan Inggris dan mampu mengkomunikasikan keduanya dengan baik. Pada usia SD, ia sudah terbiasa membaca buku-buku berbahasa dan Inggris… Pada usia SLTP, ia mulai menguasai tatabahasa Arab dan Inggris.. Pada usia SLTA ia sudah terbiasa membaca dan mengkaji buku-buku bahasa Arab dan Inggris yang serius dan ilmiah… Maka, begitu masuk kuliah di perguruan tinggi, ia sudah menjadi seorang penulis yang produktif dan kreatif. Artinya, tidak perlu menunggu menjadi doktor, jika hanya untuk bisa menulis produktif..

 

Itu hanya satu contoh impian. Dan kita bisa membuat impian-impian lain untuk keluarga kita, yang kita mulai dari rumah kita sendiri, rumah yang kita jadikan sebagai Rumah Belajar…

 

Jadi… intinya, setiap keluarga harus memaksimalkan kecerdasan keluarganya sejak di rumah. Jangan terlalu berharap kepada sekolah, jika ingin mencerdaskan anak-anak. Kecuali jika kita ingin kecewa dan salah alamat. Sekolah hanyalah media pembantu. Yang paling utama justru rumah. Rumahlah tempat terpenting untuk menjadikan anak-anak supercerdas… Dan anak supercerdas berawal dari rumah…!

 

Sumber : Ust. Ashoff Murtadha

Fri, 15 Apr 2011 @23:24

Kategori

 

K-Kids Kesehatan Untuk Anak
image

K-Kids merupakan nutrisi lengkap yang seimbang dengan kandungan cod liver oil, omega 3, Vitamin A dan Vitamin D di dalamnya. Diformulasikan sebagai makanan tambahan untuk menunjang tumbuh kembang anak, membantu menjaga kesehatan tulang dan membantu proses pertumbuhan serta perkembangan sel otak dan syaraf pada anak.

Hubungi : 0858 6030 9951

DAFTAR SEMENTARA untuk buat Website
BELAJAR SHOLAT DHUHA
Link Teman
DOWNLOAD

Silahkan Download Presentasi & Marketing Plan berikut,

DOWNLOAD

 

E-Book mengelola Web member sitekno

DOWNLOAD

 

Slide Presentasi Sitekno

DOWNLOAD

Copyright © 2017 · All Rights Reserved